KUANSING – Kondisi arena Pacu Jalur Tepian Lubuok Sobae di Baserah, Kabupaten Kuantan Singingi, mulai menuai sorotan. Sejumlah bagian pelataran di kawasan tepian sungai tersebut terlihat mengalami retak, amblas, hingga penurunan struktur tanah di beberapa titik.
Kerusakan itu dinilai bukan lagi sekadar persoalan estetika, melainkan telah berpotensi membahayakan keselamatan masyarakat yang datang berkunjung, terutama menjelang pelaksanaan event Pacu Jalur yang akan digelar pada Agustus mendatang.
Tokoh muda asal Baserah, Barry Eko Lesmana, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi kawasan yang selama ini menjadi pusat aktivitas masyarakat dan salah satu ikon budaya di Kabupaten Kuantan Singingi tersebut.
Menurut Barry, kekhawatiran terbesar bukan hanya pada kerusakan fisik yang terlihat, tetapi risiko keselamatan pengunjung yang bisa muncul apabila kondisi itu terus dibiarkan tanpa penanganan serius.
“Yang kita khawatirkan bukan hanya soal kerusakan fisiknya, tetapi keselamatan masyarakat. Di beberapa titik sudah terlihat amblas dan retak cukup panjang. Jika terus dibiarkan, ini bisa membahayakan pengunjung yang datang,” ujar Barry Eko Lesmana.
Ia menuturkan, saat musim Pacu Jalur tiba, kawasan Tepian Lubuok Sobae dapat dipadati ribuan masyarakat yang datang menyaksikan perlombaan tradisional kebanggaan warga Kuansing tersebut. Bahkan, jumlah pengunjung yang memadati arena diperkirakan bisa mencapai lebih dari seribu orang dalam satu waktu.
Dengan tingginya intensitas aktivitas masyarakat di lokasi itu, Barry menilai kondisi infrastruktur di kawasan tepian sungai harus segera mendapat perhatian serius dari pemerintah sebelum menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.
“Tepian ini setiap tahun dipenuhi masyarakat saat Pacu Jalur berlangsung. Kalau kondisi tanah dan pelatarannya sudah mulai retak dan amblas seperti sekarang, tentu sangat mengkhawatirkan. Jangan sampai nanti terjadi insiden ketika arena sedang dipadati pengunjung,” katanya.
Menurutnya, karakter tanah di kawasan tepian sungai memang rentan mengalami abrasi dan pergeseran struktur. Karena itu, kerusakan yang saat ini terlihat harus segera ditangani agar tidak berkembang menjadi longsor atau kerusakan yang lebih besar.
“Jangan sampai nanti baru sibuk mencari solusi ketika sudah ada korban atau kerusakan besar. Pencegahan jauh lebih penting. Pemerintah harus bergerak cepat melihat kondisi ini,” tegasnya.
Barry berharap Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi dapat segera berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) guna melakukan penanganan teknis dan revitalisasi kawasan Tepian Lubuok Sobae secara menyeluruh.
Menurutnya, Tepian Lubuok Sobae bukan hanya fasilitas umum biasa, tetapi juga bagian dari wajah budaya daerah yang memiliki nilai historis dan sosial bagi masyarakat Kuantan Singingi.
“Pacu Jalur adalah identitas masyarakat Kuansing. Tepian Lubuok Sobae menjadi bagian dari denyut kebudayaan itu sendiri. Karena itu, fasilitas dan aspek keamanannya harus benar-benar diperhatikan,” tutupnya.***
Social Header